Pekanbaru ( faktanusantara.net ), Pemerintah Provinsi Riau menerima audiensi Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pelalawan (AMMP) guna membahas perkembangan pemulihan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Februari 2026. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bersama terkait percepatan pelaksanaan program Tim Percepatan Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo (TP2TNTN).
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan bahwa dialog berjalan konstruktif dan menghasilkan pemahaman bersama antara pemerintah dan perwakilan masyarakat.
“Alhamdulillah, kita sudah mencapai kesepakatan dengan rekan-rekan AMMP. Program serta dasar hukum pelaksanaan TP2TNTN juga telah kami sampaikan secara terbuka,” ujarnya.
Ia menegaskan, tim tetap melanjutkan proses relokasi bagi masyarakat yang telah menyerahkan dokumen kepemilikan lahan sawit kepada pemerintah sebagai bagian dari upaya penataan dan pemulihan kawasan hutan konservasi tersebut.
Menurutnya, relokasi akan dilakukan dengan pendekatan humanis, mengutamakan dialog serta memastikan hak-hak masyarakat tetap terlindungi. Pemerintah juga berkomitmen untuk menyiapkan sarana dan prasarana secara menyeluruh sebelum proses pemindahan dilakukan.
“Tidak ada masyarakat yang ditinggalkan. Kita akan menyelesaikan terlebih dahulu fasilitas seperti sekolah, tempat ibadah, dan sarana pendukung lainnya. Setelah semuanya siap, barulah masyarakat dipindahkan,” tegasnya.
Saat ini, tercatat sekitar 3.900 subjek kepemilikan lahan dengan total luas mencapai kurang lebih 10.000 hektare telah diserahkan kepada pemerintah. Untuk mendukung relokasi, Pemprov Riau telah menyiapkan lahan seluas 632 hektare dan akan berkoordinasi dengan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) guna memastikan proses berjalan sesuai aturan.
Selain relokasi, pemerintah juga mempercepat program pemulihan lingkungan melalui reboisasi. Sebanyak 2.400 hektare lahan di kawasan TNTN direncanakan segera ditanami kembali sebagai langkah konkret penghijauan dan rehabilitasi ekosistem.
“Akan dilakukan reboisasi seluas 2.400 hektare. Lahan ini segera kita tanami kembali, dan ketersediaannya akan dilaporkan kepada Kementerian Kehutanan sebagai bagian dari komitmen pemulihan kawasan,” pungkas Hariyanto.
Tim Redaksi
