Jakarta, Kerajaan bernama Orde Baru dibangun dari lapisan mitos dan legenda tentang kejayaan, ketakutan, dan keesaan kuasa Presiden Soeharto. Selama 32 tahun berkuasa, ia dipersepsikan sebagai figur paling dominan di republik ini. Namun hampir semua orang Indonesia tahu satu hal yang tak terbantahkan:
penguasa nomor satu itu hanya bertekuk lutut pada satu perempuan.
“Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Pak Harto.”
Kalimat itu bukan bisik-bisik orang dekat, melainkan pengakuan Pak Harto sendiri, sebuah penegasan tentang betapa sentralnya Siti Hartinah Ibu Tien Soeharto dalam hidupnya.
Entah itu ungkapan tulus atau sekadar kata manis, sejarah mencatat satu fakta yang tak terbantahkan: hingga akhir hayatnya, Pak Harto tetap setia pada Bu Tien.
Di tengah ratusan kontroversi politik, tudingan kekuasaan absolut, dan berbagai persoalan besar yang menyeret namanya, satu wilayah hidup yang nyaris tak pernah tersentuh skandal adalah urusan perempuan.
Ancaman “pemberontakan terbuka” itu, agaknya, bukan gurauan. Bagi Pak Harto, kehilangan keseimbangan rumah tangga berarti runtuhnya benteng terpenting dalam hidupnya.
Tidak berlebihan memang sebab kejayaan itu dibangun berdua, dari nol. Dari masa-masa sulit ketika nama Soeharto belum berarti apa-apa, hingga puncak kekuasaan yang mengubah wajah Indonesia.
Bahkan di awal perjalanan, Pak Harto sempat merasa minder. Bu Tien datang dari lingkungan priyayi Mangkunegaran, dengan latar sosial dan pendidikan yang lebih mapan. Namun justru dari ketimpangan itulah lahir kemitraan yang kokoh: Bu Tien menjadi penyeimbang, penjaga, sekaligus jangkar emosi seorang pemimpin yang kelak menguasai negeri.
Di balik kerasnya wajah Orde Baru, ada satu kebenaran sunyi:
di rumah, Pak Harto bukan seorang raja ia adalah suami yang tahu batas kuasanya.
#PakHarto
#IbuTien
#OrdeBaru
#CintaDanKekuasaan
#SejarahIndonesia
#Kesetiaan
#KisahIstana
Sumber : Kumparan.com/ Hj Hagia Sophia
Editor : Tim Redaksi
